[Cerpen] Kekasih yang Pergi

(gambar: blixx-a.deviantart.com)
Pemuda dari suku X memberikan tendangannya. Pemuda dari suku Y sempoyongan dan hilang keseimbangan. Pertahanannya terbuka. Tanpa ampun pemuda dari suku X itu menghunuskan samurai ke arah perut lawannya. Pemuda dari suku Y pun tersungkur tak berdaya. Ia terjerembap berkalang aspal dan bermandikan darah.
∞∞∞
Entah karena apa pertikaian ini bermula. Bahkan Rizky pun tak tahu pasti apa penyebabnya. Simpang siur kabar yang terdengar tentang apa yang menyulut pertikaian ini belum juga jelas. Katanya, pertikaian ini tersulut karena ada sekelompok suku X yang membuat gaduh ketika sedang diadakannya sebuah pertemuan keagamaan di rumah salah seorang yang berasal dari suku Y. Namun, ada juga versi lain yang berkata, kalau pertikaian ini bermula dari salah seorang suku Y yang menegur seorang dari suku X karena kegaduhan itu dengan cara kasar. Sehingga pemuda dari suku Y itu membotoli pemuda dari suku X hingga berkeramaskan darah. Entah, yang mana yang benar. Tapi yang pasti, saat ini keadaan sudah terlanjur memanas.

Leave a comment

Kerjanya Polisi itu APA??!!!

Malam belum terlalu larut ketika saya masih sibuk menyelesaikan sebuah artikel yang harus berjumlah tak kurang dari 6.500 karakter. Namun, saat itu satu halaman A4 pun urung tersentuh seluruhnya. Rasa kantuk tak jarang menghampiri, membuat saya harus sering-sering mengerjap agar tetap terjaga. Kepala pun tak jarang berdenyut kencang memikirkan kata demi kata yang harus saya tuliskan agar artikel bisa menarik untuk dibaca. Kondisi seperti itu tak jarang melahirkan bisikan setan yang berdenging di telinga saya. Entahlah, apakah itu bisikan setan atau hanya panggilan hati yang merasa kelelahan. Sebab, dorongan agar diri ini berhenti menyelesaikan tulisan pun semakin kuat adanya.
Pukul 20.10 WIB. Lagu barat yang saya tak tahu siapa penyanyinya dan lagunya itu masih terdengar lewat sound system yang terhubung dari salah satu komputer teman saya. Mengisi kekosongan di ruang redaksi yang hanya menyisakan tiga lelakisaya dan dua teman sayayang saling berkutat dengan komputer masing-masing demi menyesaikan tugas. Kesejukan angin malam di tanggal 20 Mei tak bisa saya rasakan sebab tak ada satu pun jendela kantor yang terbuka, atau memang sengaja dibuka. Gerah perlahan menyelubungi tubuh saya sebab pendingin ruangan dimatikan entah oleh siapa. Namun, agaknya artikel yang urung rampung itu telah mampu menghipnotis saya sehingga tak terlalu peduli pada gerah yang semakin meruap.

1 Comment

Tanah Pembegal

Foto : siperubahan.com
Mungkin bisa saya katakan jika kata 'begal' sudah tak asing lagi di telinga Anda. Lebih lagi dengan fenomena begal yang tiba-tiba saja booming pada beberapa bulan terakhir ini. Sebab serentak terjadi di mana pun dalam kurun waktu yang singkat, serupa virus flu burung yang mampu menulari manusia sempai pelosok negeri dalam waktu singkat. Tak ada bedanya untuk kedua hal itu. Mereka sama-sama menakutkan dan meresahkan. Tapi, kalau sedikit menapak tilas kembali, sejatinya fenomena begal ini sudah lama terjadi.

Sebelum begal diekspos oleh media dan merajalela seperti beberapa bulan belakangan ini, begal sudah sering terjadi. Namun, sayang seribu sayang sebab hal itu tak pernah menjadi perhatian utama oleh media (hingga booming seperti sekarang ini) sebelumnya, sebab mereka memang kadang beraksi di "Tanah Tak Bertuan". Tanah Tak Bertuan adalah sebutan untuk banyak wilayah yang kehadiran polisi atau pun aparat penegak hukum lainnya tidak dirasakan sama sekali (setidaknya itu yang saya tahu ketika membaca Majalah Tempo edisi 9 - 15 Maret).

Dan anehnya, kini fenomena begal tiba-tiba saja booming tepat di saat kisruh dua lembaga penegak hukum negeri ini tengah melambung (KPK vs Polri). Ah, maaf, kali ini saya sedang tidak ingin menyangkutpautkan fenomena begal dengan masalah politik di negeri ini. Soal pengalihan isu atau permainan oknum, atau apalah itu, saya sedang tidak menyerempet kepada hal-hal tersebut. Saya hanya ingin membahas tentang begal dari sudut pandang baru dari sebuah hasil investigasi. Hanya itu.

Leave a comment

[Cerpen] Mata Indah Sekar (Part II)

(gambar: www.pinterest.com)
Selepas kepulangannya dari rumah sakit, tak ada yang berubah dari hidup Ibu Sekar. Perempuan paruh baya itu masih melanjutkan hidupnya seperti biasa: bekerja mengurusi salonnya. Sebenarnya dokter sudah memintanya untuk melakukan perawatan di rumah sakit demi kelanjutan kesehatannya. Namun tentu saja ia menampiknya. Ia enggan bila harus berada di sekitar mereka, apalagi dalam waktu yang tak sebentar. Bahkan, bujukan Sekar yang semakin cemas dengan kondisinya pun masih tak mampu merubah pendiriannya. Padahal, rasa benci Sekar kepada dokter telah sedikit memudar karena kehadiran Rama. Namun sepertinya, itu belum juga berlaku bagi ibunya.

Betapa cepatnya waktu bergulir bagi Sekar. Menit menjadi jam. Hari menjadi minggu. Dan minggu menjadi bulan. Waktu terus bergulir tanpa bisa dihentikannya. Atau untuk sekedar dilambatkannya pun ia tak mampu. Kematian memang akan selalu datang menjemput siapa saja. Namun siapa yang tak cemas bila hari kematian bagi orang tersayang dapat dikatakan dengan gamblangnya? Membuat hidup selalu dibuntuti oleh kecemasan. Membuat nalar tersadar jika waktu kebersamaan ini akan segera berakhir. Mungkin karena inilah Tuhan merahasiakan kematian hambanya. Sebab tak semua manusia siap menyambut hari kematiannya.

3 Comments

[Cerpen] Mata Indah Sekar (Part I)

(gambar: www.pinterest.com)
Soluna hitam itu berhenti tepat di depan sebuah rumah kala Rama menginjak pedal remnya. Setelah menarik rem tangan, ia bergegas keluar, berjalan setengah berlari menuju pintu belakang dengan memutari mobil. Bersamaan dengannya, Sekar yang duduk di samping kursi kemudi pun bergegas keluar. Ia beralih ke pintu belakang, membukanya, dan menuntun ibunya yang hendak turun dari mobil. Dan ketika Rama─yang berniat ingin menuntunnya─baru saja mencekal lengan Ibu Sekar, dengan serta merta perempuan paruh baya itu justru menampiknya. Bahkan ia terus berlalu tanpa sekalipun mau menatapnya. Sekar sempat melempar pandangannya kepada Rama saat itu juga. Sebuah tatapan yang menyiratkan penyesalan. Dan Rama hanya membalasnya dengan sebuah senyum tipis. Seolah ia sedang memberikan siyarat ‘tak apa’. Sambil terus mencekal lengan dan merangkul pundak ibunya, Sekar pun menuntun ibunya masuk ke dalam rumah.
            Sementara itu, Rama memutuskan untuk menunggu Sekar di sisi mobilnya. Berdiri sambil bersandar pada mobilnya. Matanya menatap lurus ke depan. Tepat ke rumah yang tak terlalu besar dengan pagar teralis yang tingginya hampir sedadanya. Pintu depannya tersingkap, memancarkan semburat keputihan dari dalam yang kontras dengan lampu terasnya yang berpendar temaram.
Sepi.
Malam telah larut dan hanya terdengar lamat-lamat parade para jangkrik yang mengerik. Semilir angin sempat menerpanya. Menepi ke tengkuk Rama, membuatnya sedikit bergidik. Tak berselang lama, Sekar pun kembali muncul dari pintu yang terbuka itu. Ia berjalan menghampiri Rama yang telah menanti kehadirannya.
            “Terima kasih ya, Rama. Kau sudah mau menjemput ibuku lagi,” ujar Sekar begitu berdiri tepat di depan Rama. Sebelah tangannya menyisihkan sisi rambutnya, yang kemudian diselipkannya ke belakang telinganya. “Maaf soal tadi. Ibuku masih seperti itu kepadamu,” sambungnya tak enak hati seraya sedikit menundukkan wajahnya.
“Tak apa Sekar. Aku mengerti. Dulu kau pun begitu, kan?” sahut Rama tanpa sedikit pun merasa terhina.

4 Comments

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.