[Cerpen] Lebih dari Sekedar Benda


Pandanganku masih memaku pada hamparan laut yang tak lagi membiru, melainkan berwarna yang senada dengan langit senja. Kerlap-kerlip keemasan tak ayal terbit di permukaannya, seolah banyak permata yang mengapung di sana. Langit yang disaput awan telah berwarna jingga seiring sang surya yang perlahan merendah. Menciptakan siluet-siluet alam yang indah, seolah sebuah lukisan yang dibuat langsung oleh tangan Tuhan. Aroma air laut yang khas tak urung lesap dari hidungku tatkala angin terus berdesir menerpa. Deru ombak masih terdengar jelas menghantam bebatuan karang yang berarak tak beraturan tepat di depanku. Lidah-lidah ombak yang pecah ketika menghantam karang akan menjelma menjadi buliran kecil dan melayang di udara, lalu terbawa oleh angin yang berhembus, sebelum akhirnya menyergapku tepat dari arah depan. Hingga akhirnya angin laut itu menyelubungiku dengan kehangatan yang mengular di sekujur tubuhku, lalu kemudian mengendap dan berdenging di telingaku. Seolah angin laut tengah memelukku seraya berbisik padaku; dia akan datang, begitu katanya. Terus dan terus begitu bisiknya.

7 Comments

[Cerpen] Obrolan Tentang Manusia

(gambar: www.pinterest.com)
“Kau tahu kenapa majikan kita selalu terlambat untuk pulang?” seekor kucing jantan bertanya kepada pasangannya.
“Aku kira dia masih sibuk mencari uang untuk ditabungnya. Ya, barangkali.”
“Barangkali? Kau terdengar agak ragu dengan jawabanmu sendiri.”
Kucing jantan berbulu coklat muda dan bertutul putih itu tak lekas menjawab. Tiba-tiba saja ia begitu masyuk menjilati salah satu kakinya. “Emm... entahlah,” jawabnya kemudian di sela-sela kemasyukannya.“Setidaknya itulah yang selalu kudengar dari majikan kita sekali waktu saat pulang larut dan diprotes oleh anaknya sendiri karena keterlambatannya pulang. Maaf, Papa mencari uang untuk tabungan masa depan kita, begitulah katanya kalau tidak salah.”

3 Comments

[Cerpen] Kekasih yang Pergi

(gambar: blixx-a.deviantart.com)
Pemuda dari suku X memberikan tendangannya. Pemuda dari suku Y sempoyongan dan hilang keseimbangan. Pertahanannya terbuka. Tanpa ampun pemuda dari suku X itu menghunuskan samurai ke arah perut lawannya. Pemuda dari suku Y pun tersungkur tak berdaya. Ia terjerembap berkalang aspal dan bermandikan darah.
∞∞∞
Entah karena apa pertikaian ini bermula. Bahkan Rizky pun tak tahu pasti apa penyebabnya. Simpang siur kabar yang terdengar tentang apa yang menyulut pertikaian ini belum juga jelas. Katanya, pertikaian ini tersulut karena ada sekelompok suku X yang membuat gaduh ketika sedang diadakannya sebuah pertemuan keagamaan di rumah salah seorang yang berasal dari suku Y. Namun, ada juga versi lain yang berkata, kalau pertikaian ini bermula dari salah seorang suku Y yang menegur seorang dari suku X karena kegaduhan itu dengan cara kasar. Sehingga pemuda dari suku Y itu membotoli pemuda dari suku X hingga berkeramaskan darah. Entah, yang mana yang benar. Tapi yang pasti, saat ini keadaan sudah terlanjur memanas.

Leave a comment

Kerjanya Polisi itu APA??!!!

Malam belum terlalu larut ketika saya masih sibuk menyelesaikan sebuah artikel yang harus berjumlah tak kurang dari 6.500 karakter. Namun, saat itu satu halaman A4 pun urung tersentuh seluruhnya. Rasa kantuk tak jarang menghampiri, membuat saya harus sering-sering mengerjap agar tetap terjaga. Kepala pun tak jarang berdenyut kencang memikirkan kata demi kata yang harus saya tuliskan agar artikel bisa menarik untuk dibaca. Kondisi seperti itu tak jarang melahirkan bisikan setan yang berdenging di telinga saya. Entahlah, apakah itu bisikan setan atau hanya panggilan hati yang merasa kelelahan. Sebab, dorongan agar diri ini berhenti menyelesaikan tulisan pun semakin kuat adanya.
Pukul 20.10 WIB. Lagu barat yang saya tak tahu siapa penyanyinya dan lagunya itu masih terdengar lewat sound system yang terhubung dari salah satu komputer teman saya. Mengisi kekosongan di ruang redaksi yang hanya menyisakan tiga lelaki—saya dan dua teman saya—yang saling berkutat dengan komputer masing-masing demi menyesaikan tugas. Kesejukan angin malam di tanggal 20 Mei tak bisa saya rasakan sebab tak ada satu pun jendela kantor yang terbuka, atau memang sengaja dibuka. Gerah perlahan menyelubungi tubuh saya sebab pendingin ruangan dimatikan entah oleh siapa. Namun, agaknya artikel yang urung rampung itu telah mampu menghipnotis saya sehingga tak terlalu peduli pada gerah yang semakin meruap.

1 Comment

Tanah Pembegal

Foto : siperubahan.com
Mungkin bisa saya katakan jika kata 'begal' sudah tak asing lagi di telinga Anda. Lebih lagi dengan fenomena begal yang tiba-tiba saja booming pada beberapa bulan terakhir ini. Sebab serentak terjadi di mana pun dalam kurun waktu yang singkat, serupa virus flu burung yang mampu menulari manusia sempai pelosok negeri dalam waktu singkat. Tak ada bedanya untuk kedua hal itu. Mereka sama-sama menakutkan dan meresahkan. Tapi, kalau sedikit menapak tilas kembali, sejatinya fenomena begal ini sudah lama terjadi.

Sebelum begal diekspos oleh media dan merajalela seperti beberapa bulan belakangan ini, begal sudah sering terjadi. Namun, sayang seribu sayang sebab hal itu tak pernah menjadi perhatian utama oleh media (hingga booming seperti sekarang ini) sebelumnya, sebab mereka memang kadang beraksi di "Tanah Tak Bertuan". Tanah Tak Bertuan adalah sebutan untuk banyak wilayah yang kehadiran polisi atau pun aparat penegak hukum lainnya tidak dirasakan sama sekali (setidaknya itu yang saya tahu ketika membaca Majalah Tempo edisi 9 - 15 Maret).

Dan anehnya, kini fenomena begal tiba-tiba saja booming tepat di saat kisruh dua lembaga penegak hukum negeri ini tengah melambung (KPK vs Polri). Ah, maaf, kali ini saya sedang tidak ingin menyangkutpautkan fenomena begal dengan masalah politik di negeri ini. Soal pengalihan isu atau permainan oknum, atau apalah itu, saya sedang tidak menyerempet kepada hal-hal tersebut. Saya hanya ingin membahas tentang begal dari sudut pandang baru dari sebuah hasil investigasi. Hanya itu.

Leave a comment

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.