Buku Fiksi Pertama dan Impian yang Terwujud



Mariana, Perempuan yang Selalu Menolak Cinta dan Cerita Lainnya (Indiebook, 2016)

“Semua mimpimu akan terwujud asalkan kamu punya keberanian untuk mengejarnya.”
-Walt Disney-



Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa setiap manusia pasti bisa mewujudkan impiannya, apa pun itu. Dan seperti kutipan yang ada di awal postingan ini, siapa pun bisa mewujudkan impiannya asalkan berani mengejarnya. Berani memperjuangkannya.


“Berani dan berjuang” dua kata itulah yang sudah saya lakukan, sebelum kemudian saya bisa mewujudkan salah satu impian saya saat ini, yaitu menerbitkan buku fiksi. Dan bisa dikatakan bahwa Mariana, Perempuan yang Selalu Menolak Cinta dan Cerita-cerita Lainnya adalah buku fiksi pertama saya, yang secara resmi, telah terbit pada Agustus 2016 ini. Buku fiksi yang utuh hanya berisikan karya saya semata. Sebelumnya, beberapa karya cerpen saya memang sudah ada yang dibukukan dan saya pun telah menulis 4 buah buku non-fiksi bertemakan inspirasi bisnis yang daftar bukunya bisa dilihat di sisi kanan blog ini.

7 Comments

Resign Saja Kalau Memang Sudah Saatnya

Sumber gambar: enkivillage.com

Hari Rabu di pertengahan bulan April 2016 sedikit lebih gerah daripada beberapa hari sebelumnya. Hari itu matahari memang lebih terik dan tak ada gumpalan awan mendung sepanjang mata memandang. Dua hari yang lalu pun seingat saya hujan sempat kembali menyapa Jakarta, tetapi tidak hari itu.

Di hari yang gerah itu, dua jam sebelum waktu istirahat makan siang, saya kedatangan seorang kerabat yang pernah berada satu kantor dengan saya. Ia mengunjungi saya dan kami mulai membicarakan beberapa hal. Salah satu di antaranya adalah urusan pekerjaan. Dan entah mengapa, selama kami saling berbagi pengalaman hari itu tekad kami untuk resign pun semakin bulat.

5 Comments

[Cerpen] Mata Air dari Negeri Hujan

Gambar: arenadaerah.blogspot.com

“Apa kau pernah mendengar tentang Negeri Hujan?”

Begitulah seorang pria yang muncul entah dari mana tiba-tiba saja bertanya kepadaku ketika aku hendak menyeruput kopiku untuk kali terakhir di warung Khasim. Ah, sial, rutukku dalam hati. Apakah hal seperti ini harus menimpaku lagi? Seingatku, tempo hari jauh sekali seorang pengelana juga pernah datang padaku dan bertanya, apakah aku pernah mendengar tentang Negeri Senja? Dan ia pun mulai berkisah padaku tentang Matahari yang Tidak Pernah Terbenam di Negeri Senja1 selama hampir satu malam penuh. Hasilnya, setelah mendengar ceritanya hingga tandas aku pun seketika mengantuk sehingga lupa untuk memeriksa keadaan kampungku. Untungnya malam itu tak ada penyamun yang sedang beraksi di kampungku. Tak ada sapi atau kambing warga yang hilang.

Dan malam ini, ketika aku baru saja hendak berkeliling guna memeriksa keadaan kampungku, seorang pria tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan bertanya apakah aku pernah mendengar tentang Negeri Hujan. Apakah aku harus mendengarkan kisahnya―yang entah bualan atau bukan―tentang Negeri Hujan, atau aku tak perlu mendengarkan apa-apa dari lelaki itu dan langsung pergi saja untuk menunaikan tugasku―memastikan bila keamanan kampung terjamin? Tetapi, sejujurnya aku belum pernah sekalipun mendengar tentang Negeri Hujan. Lagi pula, aku penasaran, seberapa menarik kisah tentang Negeri Hujan ini? Dan apa yang membuat Negeri Hujan begitu istimewa sehingga lelaki itu mau bersusah-susah berdongeng tentang Negeri Hujan kepadaku? Aku kira tak mengapa bila mendengar kisahnya lebih dulu sebelum aku memutari kampong yang sunyi ini. Lagi pula, sekarang masih pukul 11 malam.

4 Comments

Seperti Biasa, Aku Mengaguminya

Pangandaran, 6/2/2016

Aku tak suka menerka-nerka,
tapi bila senja dapat bertahta
indah disanding gelap,
maka biarlah demikian adanya
hingga gelap benar-benar gulita.

Garis khatulistiwa tak lebih pembatas
aku mengagumi setiap incinya.
Setiap warnanya adalah kepastian,
sedang aku bentuk lain kebodohan.

Pada hari yang sama aku menatap senja,
elok seperti biasanya.
Aku mengaguminya,
seperti biasanya.
Namun senja tak pernah tahu itu,
tak peduli pula,
seperti biasanya.

3 Comments

Rindu - Novel yang Menjawab 5 Pertanyaan dari 5 Tokoh yang Ada


“Apalah arti memiliki,
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?”

Apalah arti kehilangan,
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Itu adalah bunyi dari penggalan kalimat yang terdapat di sampul belakang novel Rindu (2014) gubahan Tere Liye. Jujur, ini adalah novel pertama Tere Liye yang saya baca meski namanya sudah tak lagi asing di telinga saya. Tetapi entah mengapa, ketika melihat novel miliknya ini, ada ketertarikan besar dalam diri saya untuk membelinya―lain hal ketika melihat novelnya yang sudah terbit sebelum-sebelumnya.

2 Comments

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.