Resign Saja Kalau Memang Sudah Saatnya

Sumber gambar: enkivillage.com

Hari Rabu di pertengahan bulan April 2016 sedikit lebih gerah daripada beberapa hari sebelumnya. Hari itu matahari memang lebih terik dan tak ada gumpalan awan mendung sepanjang mata memandang. Dua hari yang lalu pun seingat saya hujan sempat kembali menyapa Jakarta, tetapi tidak hari itu.

Di hari yang gerah itu, dua jam sebelum waktu istirahat makan siang, saya kedatangan seorang kerabat yang pernah berada satu kantor dengan saya. Ia mengunjungi saya dan kami mulai membicarakan beberapa hal. Salah satu di antaranya adalah urusan pekerjaan. Dan entah mengapa, selama kami saling berbagi pengalaman hari itu tekad kami untuk resign pun semakin bulat.

5 Comments

[Cerpen] Mata Air dari Negeri Hujan

Gambar: arenadaerah.blogspot.com

“Apa kau pernah mendengar tentang Negeri Hujan?”

Begitulah seorang pria yang muncul entah dari mana tiba-tiba saja bertanya kepadaku ketika aku hendak menyeruput kopiku untuk kali terakhir di warung Khasim. Ah, sial, rutukku dalam hati. Apakah hal seperti ini harus menimpaku lagi? Seingatku, tempo hari jauh sekali seorang pengelana juga pernah datang padaku dan bertanya, apakah aku pernah mendengar tentang Negeri Senja? Dan ia pun mulai berkisah padaku tentang Matahari yang Tidak Pernah Terbenam di Negeri Senja1 selama hampir satu malam penuh. Hasilnya, setelah mendengar ceritanya hingga tandas aku pun seketika mengantuk sehingga lupa untuk memeriksa keadaan kampungku. Untungnya malam itu tak ada penyamun yang sedang beraksi di kampungku. Tak ada sapi atau kambing warga yang hilang.

Dan malam ini, ketika aku baru saja hendak berkeliling guna memeriksa keadaan kampungku, seorang pria tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan bertanya apakah aku pernah mendengar tentang Negeri Hujan. Apakah aku harus mendengarkan kisahnya―yang entah bualan atau bukan―tentang Negeri Hujan, atau aku tak perlu mendengarkan apa-apa dari lelaki itu dan langsung pergi saja untuk menunaikan tugasku―memastikan bila keamanan kampung terjamin? Tetapi, sejujurnya aku belum pernah sekalipun mendengar tentang Negeri Hujan. Lagi pula, aku penasaran, seberapa menarik kisah tentang Negeri Hujan ini? Dan apa yang membuat Negeri Hujan begitu istimewa sehingga lelaki itu mau bersusah-susah berdongeng tentang Negeri Hujan kepadaku? Aku kira tak mengapa bila mendengar kisahnya lebih dulu sebelum aku memutari kampong yang sunyi ini. Lagi pula, sekarang masih pukul 11 malam.

4 Comments

Seperti Biasa, Aku Mengaguminya

Pangandaran, 6/2/2016

Aku tak suka menerka-nerka,
tapi bila senja dapat bertahta
indah disanding gelap,
maka biarlah demikian adanya
hingga gelap benar-benar gulita.

Garis khatulistiwa tak lebih pembatas
aku mengagumi setiap incinya.
Setiap warnanya adalah kepastian,
sedang aku bentuk lain kebodohan.

Pada hari yang sama aku menatap senja,
elok seperti biasanya.
Aku mengaguminya,
seperti biasanya.
Namun senja tak pernah tahu itu,
tak peduli pula,
seperti biasanya.

3 Comments

Rindu - Novel yang Menjawab 5 Pertanyaan dari 5 Tokoh yang Ada


“Apalah arti memiliki,
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?”

Apalah arti kehilangan,
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Itu adalah bunyi dari penggalan kalimat yang terdapat di sampul belakang novel Rindu (2014) gubahan Tere Liye. Jujur, ini adalah novel pertama Tere Liye yang saya baca meski namanya sudah tak lagi asing di telinga saya. Tetapi entah mengapa, ketika melihat novel miliknya ini, ada ketertarikan besar dalam diri saya untuk membelinya―lain hal ketika melihat novelnya yang sudah terbit sebelum-sebelumnya.

2 Comments

Perempuan dengan Pesona Senja

Foto: 7-themes.com

Ini tentang dia,
Perempuan yang terlahir memesona
Ini masih tentang dia,
Perempuan menawan meski tak bermahkota
Dan akan terus tentang dia,
Perempuan bermata teduh yang tak lesap meski didera prahara

Dia mampu berjalan lurus di tengah gelapnya dunia,
Dia mampu mendaki meski pundaknya memikul sejuta beban,
Dia tak pernah tersesat meski berjalan di dalam gua yang gulita sendirian,
Dia pernah terluka tapi tak sampai menangis,

Suaranya bagai dawai biola di tengah orkestra
Senyumnya bagai hamparan langit yang lazuardi
Sorot matanya bagai air nan tenang di tengah sunyinya danau

Ketika dia bicara maka pesonanya kian bertambah
Ketika dia bersedih maka bumi pun turut hanyut dalam pilu
Ketika dia tersenyum maka ribuan putri malu akan kuncup
Ketika dia tertawa maka senja akan lama tenggelam

Ini masih tentang dia,
Perempuan yang terlahir menawan
Ini teruntuk dia,
Perempuan sahaja yang kian kupuja

Dia adalah perempuan dengan sejuta pesona
Dia adalah perempuan dengan seribu enigma
Dia adalah Hawa yang kembali menjelma
Dia adalah perempuan yang memiliki nama...

Tapi biarkan aku yang menyimpan sendiri namanya.
Agar tak ada siapa pun yang menyadari keindahannya meski teman dekatnya sekalipun,
Agar tiada lagi yang memujanya.
Agar tiada lagi yang bisa menyakitinya.
Agar hanya aku seorang yang bisa memujanya

Berlama-lama...

7 Comments

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.