[Cerpen] Hilangnya Seekor Naga


Seperti ribuan intan permata yang sengaja dilempar oleh Tuhan ke angkasa, gugusan bintang yang berkelapan begitu indah menggantung di atas sana, tersebar hampir ke seluruh penjuru langit Amsterdam. Membuat langit malam tak lagi berwarna hitam, melainkan biru keungu-unguan. Bulan sabit tak lagi pasi di antara luasnya langit yang membentang, melainkan elok sebab telah berkalungkan perhiasan.

Jauh di bawahnya, seorang lelaki tengah memandangi langit yang tak lagi sederhana itu sendirian. Di sebuah langkan di lantai dua rumahnya, ia berdiri dengan wajah yang agak mendongak. Matanya tak lekang memandangi langit malam yang lapang dan tengah dinaungi oleh gugusan bintang. Membuatnya teringat kembali pada seorang gadis yang wajahnya selalu dinaungi oleh seberkas cahaya. Matanya teduh dan selalu diilhami oleh keluguan seorang perempuan. Dagunya meruncing dan mungil. Hidungnya ramping dan tak terlalu mancung. Bibirnya tipis dengan senyum yang tak pernah berlebihan.

2 Comments

[Puisi] Jiwa Untuk sekedip Matamu

Picture by: pixhome.blogspot.co.id
Lebih dari cukup,
senyummu selalu rekah di setiap hari.
Lebih dari itu,
surga duniawi tak tertampik lagi.

Aku berani tawarkan jiwa
untuk sekedip matamu,
juga segelintir umur
demi bisa memelukmu.

Terlalu berlebihankah itu untukmu, Sayang?
Aku tak merasa. Yang aku tahu rasa ini
terlanjur berlebih, melembak hingga aku tak lagi rasional.

2 Comments

Hujan dan Renjana




Di balik jendela kumemandang hujan
jatuh, menitik, melahirkan genangan dan kenangan,
saling tumpang tindih.

Merangkak di antara rinai
suara-suara dambaan itu, mampukah kau mendengarnya?
Memanggil-manggil mesra namamu.

Aku benci hujan.
Semua akan menjadi basah.
Atap, tanah, daun-daun,
juga mataku akan basah,
oleh hujan.

Renjanaku akan menggebu
ketika hujan menyemai bumi beserta penghuninya.
Wujudmu kemudian terlahir dalam bentuk peri hujan,
menyergapku. Aku dengan rela mendekap wujudmu.

Tak ingin kulepas walau sesaat
hingga air mataku menitik bersama hujan,
melahirkan genangan dan kenangan,
saling tumpang tindih.

2 Comments

Aku Benci Mereka

Picture from http://strano66.blogspot.co.id/2013/10/foto-karya-seni-yang-bisa-membuat-orang.html
Aku Benci Mereka,
yang mengharapmu sama sepertiku.

Aku benci mereka,
yang merindumu sama sepertiku. 
 
Aku benci mereka,
yang selalu menyebut namamu dalam angan
mereka masing-masing.

Aku akan selalu membenci
mereka yang seolah peduli
padamu penuh perhatian. 
 
Tiadakah mereka bisa mencari yang lain
agar kamu tiada yang ingin selain aku dan hanya aku.

Aku membenci mereka,
yang merayumu dengan menjual kata cinta.

4 Comments

Tak Akan Kembali Biar Kubuat 1000 Puisi


Picture by http://fh-art.net/two-boats-lake-painting/


Berelegi atau berpuisi, kulampiaskan segalanya.
Hati tetap saja luka.
Yang hilang tak mungkin kembali
meski kubuat seribu puisi, bertinta darah.
Meski kugubah seribu lagu sendu,
bertahta nestapa.

Bejana dalam relung terlanjur merenggang.
Tiada lagi pucuk kebahagiaan yang tersirat di antaranya.
Perih telah menggurita tanpa tahu bagaimana akhirnya.

Kukira tak ada yang lebih perih kecuali pengkhianatan.
Pergi tanpa pamit dan tak kembali
baru kutahu jauh lebih mengundang luka.
Entah apa panawar racunnya.

Entah berapa lama aku mampu berdiri agar tak limbung,
sedang kau tiada lagi di bumi.
Kau tak akan kembali berkedip sebelum Izrafil
menunaikan titah Tuhan.
Di embusan napasnya yang kedua.

3 Comments

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.