Karmela, seorang anak yang sangat senang
menulis. Ia begitu riang tiap kali ia guratkan ujung penanya yang runcing itu
ke permukaan kertas. Tiap guratannya ia bentuk menjadi huruf per huruf dan ia
susun hingga menjadi sebuah kalimat, bahkan sebuah paragraf. Kesenangannya
menulis ia dapatkan dari ayahnya. Ayah Karmela adalah seorang penulis ulung
yang telah menulis di banyak kertas. Ayahnya adalah orang yang paling terkenal
di desanya. Semua orang desa tahu siapa Ayah Karmela. Pria kurus dengan kumis
dan kacamata yang hampir sama tebalnya. Pak Julis, begitu biasanya mereka
menyapanya. Entah kenapa warga desa senang memanggil beliau dengan sebutan Pak
Julis, padahal namanya bukanlah Julis, melainkan Deri. Mungkin panggilan Julis itu
berasal dari kepanjangan ‘juru tulis’ yang disingkat menjadi ‘Julis’. Entahlah,
tapi yang jelas nama itu sudah lama melekat di dalam diri Ayah Karmela.
Pages - Menu
▼
Find Me
▼
Minggu, 13 April 2014
Selasa, 01 April 2014
Surat Untuk Mantan
Hai, sang pemantik fajarku yang telah lama pergi. Kau
tahu bila aroma minyak wangimu masih dapat tercium jelas di hidungku? Aroma
floral yang lembut itu selalu menggelitiki hidungku tiap kali aku mengingatmu. Kini
kita memang telah terpisah. Bukan. Bukan terpisah melainkan memang sudah berpisah.
Ya, berpisah karena itulah maumu, bukan?
Kau pernah mengatakan padaku tentang apa itu
kesetiaan. Kau pernah mengajariku tentang apa itu kebahagiaan. Tapi kau juga
yang mengingkari semua itu. Kecewa? Apa kau melihatku sebagai orang yang penuh
rasa kecewa? Aku tak kecewa, sayang. Aku hanya orang yang pernah terluka oleh
sikapmu yang tak pernah sama dengan ucapanmu.
Aku seperti air tawar yang kau simpan di dalam
lemari besimu. Kau menyimpanku baik-baik dan akan datang padaku hanya saat kau
membutuhkanku. Saat kau tengah dehidrasi. Saat kau tengah haus dengan belaian
kasih sayang. Dan aku selalu membiarkanmu meneguk kasihku dengan napsumu itu
hingga kau tak lagi merasa kering.